Kamera

Entah kebetulan atau memang disengaja, ungkapan yang sering disampaikan terkait dengan kamera adalah “The man behind the gun”. Foto yang bagus semata-mata bukan karena kameranya, melainkan siapa yang berada di belakang kamera tersebut. “Gun” artinya senjata. Kamera dengan senjata, apakah ada hubungannya? Jika merujuk pada konteks ungkapan tersebut, tentu saja ia hanyalah kiasan. Bukan makna sebenarnya. Kamera bukanlah sejenis senjata.

Tapi, apakah betul begitu?

Pada awalnya kamera mungkin diciptakan tak lebih sebagai perekam momen. Mengabadikan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Kamera dibutuhkan karena ingatan manusia tidak bisa menangkap peristiwa secara detail. Apalagi, ingatan bisa gagal menyimpan sebuah peristiwa dengan berbagai sebab, bisa karena memori aus, momen yang sudah terlalu lama, atau karena amnesia. Dengan adanya kamera, peristiwa-peristiwa itu bisa direkam dan ditonton kembali setelah ia berlalu puluhan bahkan ratusan tahun setelahnya.

Kamera juga digunakan untuk membagikan peristiwa kepada orang lain. Dengan foto atau video, kita bisa membagikan sebuah momen kepada banyak orang secara persis. Hal yang sangat sulit atau bahkan tidak bisa dilakukan oleh manusia secara langsung.

Dari masa ke masa kamera terus berkembang. Dulu, kamera kebanyakan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, misalnya fotografer atau wartawan. Kini, setelah ratusan tahun sejak kamera pertama diciptakan, ia bukanlah barang mewah lagi. Ponsel dengan harga murah sekalipun sudah ada kameranya. Bahkan kamera profesional pun sudah banyak dimiliki oleh berbagai kalangan.

Ya, kamera sudah menyatu dalam kehidupan manusia saat ini. Seiring dengan membludaknya kamera, maka kian banyak periswa-peristiwa yang diabadikan. Foto-foto maupun video bertebaran di mana-mana. Media sosial termasuk platform yang paling banyak menampung gambar-gambar tersebut. Wajar saja karena media sosial adalah album pribadi yang diciptakan, salah satunya, untuk menyimpan momen-momen tertentu.

Tapi, perkembangan kamera tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang etika berkamera. Mungkin karena saking mudahnya mengoperasikan kamera sehingga orang lupa bahwa ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelum mereka mengambil gambar dan menyebarkannya. Atau, mungkin mereka memang tidak tahu kalau berkamera itu ada aturannya.

Dulu, jarang sekali kita saksikan foto ataupun video yang memuat sadisme. Di televisi, misalnya, foto-foto maupun video jenis itu selalu terkena sensor. Tentu saja, karena ada kode etik jurnalistik yang bekerja. Wartawan atau pengelola media massa harus mematuhinya. Masyarakat tidak boleh disuguhi gambar-gambar yang bisa membuat mereka ketakutan atau trauma.

Namun, saat ini, foto dan video sadisme menjadi santapan sehari-hari di media sosial. Kita bisa menyaksikan darah berceceran saat terjadi kecelakaan atau peristiwa pertikaian. Saya pernah berjumpa dengan akun yang dengan enteng membagikan foto seorang korban carok yang ususnya terburai. Atau lain kali, saya pernah menyaksikan video orang yang kepalanya pecah karena kecelakaan.

Peristiwa yang baru-baru ini terjadi adalah tersiarnya gambar almarhum KH. Maemun Zubair beberapa waktu lalu. Ada seseorang yang entah siapa mengambil gambar yang memperlihatkah wajah beliau saat baru wafat. Foto itu menyebar ke media sosial dan aplikasi pesan instan. Kemudian, setalah ramai, ada instruksi agar foto tersebut segera ditarik dan jangan lagi disebarkan karena jelas itu tidak beretika. Kematian adalah urusan privat bagi sebagian orang. Mengambil gambar orang yang baru meninggal atau saat bernaza’ adalah tindakan yang buruk. Keluarga yang ditinggalkan bisa menanggung aib. Jika kita mau tetap mengambil foto, sebaiknya mintalah izin kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Memang susah berurusan dengan kaleng rombeng diberi nyawa. Mungkin, bagi mereka, menyebarkan foto atau video yang melanggar etika itu adalah suatu kebanggaan karena bisa menyampaikan peristiwa dengan jelas tanpa tedeng aling-aling dan menjadi orang pertama yang bisa mengabarkan peristiwa kepada khalayak ramai. Padahal, pada saat yang sama, dia telah mengabarkan kepada dunia bahwa sisi otaknya ada yang bermasalah, yang tidak pantas memegang kamera. Jika ada aturan dalam menggunakan kamera, dialah orang pertama yang harus dilarangnya.

Dengan kian banyaknya spesies kaleng rombeng diberi nyawa ini, maka dunia menjadi semakin menakutkan. Kalau kita atau keluarga kita kecelakaan, misalnya, kita mesti menanggung dua rasa sakit, sakit karena kecelakaan dan sakit karena foto atau video kita atau keluarga kita disebar ke mana-mana. Penyebar itu tidak pernah berpikir bahwa foto atau video sadisme tersebut bisa membuat kita trauma berkepanjangan.

Ketika kamera menjadi sesuatu yang menakutkan, maka makna “gun” pada ungkapan di awal tulisan ini tidak lagi bermakna kiasan, melainkan bermakna harfiah.

Hari Buku

17 Mei 2019. Hari Buku Nasional. Berapa buku yang dibeli, lalu ditelantarkan begitu saja? Banyak. Maklumlah. Kaum millenial terlalu sibuk. Sibuk bikin tagar.

Berapa banyak buku yang kita baca dalam sebulan? Tidak satu pun. Kita sudah terlalu banyak membaca ulasan-ulasan di media sosial. Hampir tak punya waktu membaca lembaran-lembaran buku. Toh, sama-sama tulisan kan? Di media sosial kita juga membaca.

Apakah begitu? Sebagian tidak sepakat. Pembahasan buku tetaplah lebih mendalam ketimbang ulasan-ulasan singkat di media sosial. Apalagi biasanya yang tampil di media sosial seleksinya longgar. Orang tidak merasa perlu memverifikasi lebih jauh data tulisannya karena media sosial sifatnya personal. Tidak ada aturan-aturan penyuntingan yang cukup ketat. Ditambah lagi, orang bisa manasuka untuk berbuat-buat dalam tulisannya.

Apakah semua buku lebih baik dari ulasan-ulasan di media sosial? Tentu saja tidak. Banyak juga buku-buku katrok yang terpaksa diterbitkan karena penulisnya ingin cepat dikenal sebagai penulis. Mereka ingin narsis saja dengan mengorbankan kepantasan. Itu hal lain yang tak perlu dibahas panjang lebar.

Kembali ke Hari Buku. Bagaimana kita menanamkan kecintaan kepada buku? Di zaman millenial ini, jawaban atas pertanyaan seperti itu semakin sulit. Dulu, hiburan orang yang bisa mengalihkannya dari membaca buku mungkin hanya televisi. Tapi sekarang? Wow, banyak sekali. Kalau sudah masuk ke dalam lingkup internet, akan banyak hal yang memaksa kita untuk berdiam lebih lama di sana. Apalagi kalau sudah menonton Youtube, bisa lebih mengerikan daripada televisi. Waktu kita menjadi banyak tersedot untuk pekerjaan yang sifatnya hiburan belaka.

Ini menjadi tantangan berat bagi pegiat komunitas literasi. Banyak komunitas yang lebih mementingkan narsisnya ketimbang eksistensinya di masyarakat. Mereka sudah merasa cukup berbuat banyak hanya dengan membagikan foto-foto orang membaca buku gratis di lapak-lapak mereka. Setelah heboh-heboh sebentar, rutinitas mereka menggelar lapak tidak lagi terdengar. Anggota komunitas satu per satu merasa bosan dan akhirnya bubar sendiri.

Ada yang mengadakan safari literasi. Mereka cuap-cuap kepada peserta yang kebanyakan lebih suka mobile legend ketimbang buku. Mereka lebih kenal Ria Ricis ketimbang Pramoedya. Lebih akrab dengan hero ML ketimbang tokoh-tokoh penulis dan pejuang seperti Muhammad Hatta. Mereka tidak paham dengan apa yang disampaikan fasilitator. Akhirnya sibuk sendiri dengan ponselnya. Bermain mobile legend. Fasilitator mangap-mangap seperti penjual kapur ajaib yang lelah menawarkan dagangannya. Tapi mereka bahagia karena foto-foto yang diunggahnya di media sosial mendapat tanggap positif dari netizen.

Siapa yang bisa bertahan dengan agenda-agenda literasi yang gratisan seperti itu? Cukup susah karena dampaknya sangat lambat terasa. Kalau orang yang berpikir instan, pasti tidak tahan dengan pekerjaan sebagai aktivis literasi. Sebab pekerjaan seperti itu bukan perkara gampang. Butuh waktu yang cukup lama. Dan, yang terpenting, mereka butuh dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Nyalasar

Buku “Nyalasar”

Judul buku yang unik. Ditulis oleh K. M. Faizi. Isinya ulasan puisi. Ada 17 pembahasan di dalamnya. Dan semuanya ditulis dengan gaya khas Kiai Faizi; renyah, mudah dipahami.  

Nyalasar itu bahasa Madura. Artinya menyerut kayu untuk melicinkan/menghaluskannya. Apa hubungan nyalasar dengan kegiatan mengulas puisi? Tentu kita bisa mamasukkan tafsir di situ. Mungkin kegiatan dimaksud untuk menyerut/menghaluskan sebuah puisi. Tapi dalam bahasa Kiai Faizi, untuk mendekatkan puisi kepada pembaca.

Betul. Sebagai pembaca awam, saya merasa terbantu sekali dalam memahami isi puisi-puisi di dalamnya. Saya memang tidak terlalu akrab dengan puisi. Dulu, saya sempat belajar menulis puisi dan mengirimkannya ke media. Beberapa dimuat dan beberapa lainnya dilempar awak redaksi ke tong recycle bin. Lalu, beberapa tahun setelah itu, tepatnya ketika saya mulai memasuki hari-hari akhir di Madrasah Aliyah, saya mulai menjauh dari puisi dan mendekat ke prosa. Penyebabnya satu: sulit memahami isi puisi.

Nah, buku puisi macam Nyalasar inilah yang saya butuhkan. Semata-mata untuk bisa menyelami tafsir di balik sebuah puisi. Memang tafsir puisi itu tidak tunggal, tapi ketika kita tidak punya tafsir sendiri, tafsir orang lain sangat perlu untuk kita baca.

Kiai Faizi sendiri menyebut gaya tafsirnya sebagai tafsir manasuka. Mungkin karena tidak menyertakan kaidah-kaidah penafsiran yang bersifat akademik atau metodologi-metodologi kritik sastra. Justru karena itulah, bagi pembaca awam macam saya, ulasan seperti ini terasa dekat dan lekat. Kepala saya bisa puyeng kalau berhadap-hadapan dengan istilah-istilah kritik sastra yang rumit-rumit itu. Karena saya tidak suka puyeng, maka saya lebih memilih buku model begini.

Dari sekian puisi yang diulas dalam buku ini, ada satu puisi yang tidak tuntas diulas oleh Kiai Faizi, yaitu puisi Afrizal Malna berjudul “Dalam Gereja Munster”. Kiai Faizi saja merasa cenat-cenut dengan puisi ini, apalagi saya. Afrizal memang suka membuat puisi-puisi gelap. Ia gemar menghidupkan benda-benda mati, atau bahkan hal-hal yang tak kasatmata. Usaha memahaminya bukanlah pekerjaan yang mudah.

Menafsir sebuah puisi memang bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan perangkat pengetahuan yang luas juga kecerdikan menangkap tanda. Penanda kecil, semisal tanggal/tahun pembuatan puisi, bisa menjadi pintu masuk untuk menyelam lebih jauh dalam sebuah puisi. Kiai Faizi memiliki keduanya. Beliau mungkin melakukan riset terlebih dahulu sebelum menuliskan ulasan-ulasan tersebut. Meskipun beliau menyebut istilah “manasuka”, saya tidak yakin beliau membuat tafsir secara asal-asalan. Hal itu tampak dari ragam pengetahuan yang ada di dalam buku tersebut. Dengan tema puisi yang beragam, Kiai Faizi selalu bisa menyuguhkan ulasan yang menarik.

Puisi-puisi yang diulas dalam buku tersebut ditulis oleh beberapa orang. Sebagian saya kenal namanya dan sebagian lainnya asing. Bahkan ada yang saya kenal sebagai penulis buku-buku ilmiah, bukan penyair.