• Beranda

Hari Buku dan Cerita Lainnya

-

- Advertisment -

17 Mei 2019. Hari Buku Nasional. Berapa buku yang dibeli, lalu ditelantarkan begitu saja? Banyak. Maklumlah. Kaum millenial terlalu sibuk. Sibuk bikin tagar.

Berapa banyak buku yang kita baca dalam sebulan? Tidak satu pun. Kita sudah terlalu banyak membaca ulasan-ulasan di media sosial. Hampir tak punya waktu membaca lembaran-lembaran buku. Toh, sama-sama tulisan kan? Di media sosial kita juga membaca.

Apakah begitu? Sebagian tidak sepakat. Pembahasan buku tetaplah lebih mendalam ketimbang ulasan-ulasan singkat di media sosial. Apalagi biasanya yang tampil di media sosial seleksinya longgar. Orang tidak merasa perlu memverifikasi lebih jauh data tulisannya karena media sosial sifatnya personal. Tidak ada aturan-aturan penyuntingan yang cukup ketat. Ditambah lagi, orang bisa manasuka untuk berbuat-buat dalam tulisannya.

Apakah semua buku lebih baik dari ulasan-ulasan di media sosial? Tentu saja tidak. Banyak juga buku-buku katrok yang terpaksa diterbitkan karena penulisnya ingin cepat dikenal sebagai penulis. Mereka ingin narsis saja dengan mengorbankan kepantasan. Itu hal lain yang tak perlu dibahas panjang lebar.

Kembali ke Hari Buku. Bagaimana kita menanamkan kecintaan kepada buku? Di zaman millenial ini, jawaban atas pertanyaan seperti itu semakin sulit. Dulu, hiburan orang yang bisa mengalihkannya dari membaca buku mungkin hanya televisi. Tapi sekarang? Wow, banyak sekali. Kalau sudah masuk ke dalam lingkup internet, akan banyak hal yang memaksa kita untuk berdiam lebih lama di sana. Apalagi kalau sudah menonton Youtube, bisa lebih mengerikan daripada televisi. Waktu kita menjadi banyak tersedot untuk pekerjaan yang sifatnya hiburan belaka.

Ini menjadi tantangan berat bagi pegiat komunitas literasi. Banyak komunitas yang lebih mementingkan narsisnya ketimbang eksistensinya di masyarakat. Mereka sudah merasa cukup berbuat banyak hanya dengan membagikan foto-foto orang membaca buku gratis di lapak-lapak mereka. Setelah heboh-heboh sebentar, rutinitas mereka menggelar lapak tidak lagi terdengar. Anggota komunitas satu per satu merasa bosan dan akhirnya bubar sendiri.

Ada yang mengadakan safari literasi. Mereka cuap-cuap kepada peserta yang kebanyakan lebih suka mobile legend ketimbang buku. Mereka lebih kenal Ria Ricis ketimbang Pramoedya. Lebih akrab dengan hero ML ketimbang tokoh-tokoh penulis dan pejuang seperti Muhammad Hatta. Mereka tidak paham dengan apa yang disampaikan fasilitator. Akhirnya sibuk sendiri dengan ponselnya. Bermain mobile legend. Fasilitator mangap-mangap seperti penjual kapur ajaib yang lelah menawarkan dagangannya. Tapi mereka bahagia karena foto-foto yang diunggahnya di media sosial mendapat tanggap positif dari netizen.

Siapa yang bisa bertahan dengan agenda-agenda literasi yang gratisan seperti itu? Cukup susah karena dampaknya sangat lambat terasa. Kalau orang yang berpikir instan, pasti tidak tahan dengan pekerjaan sebagai aktivis literasi. Sebab pekerjaan seperti itu bukan perkara gampang. Butuh waktu yang cukup lama. Dan, yang terpenting, mereka butuh dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Rozi
Rozihttp://www.alineabaru.com
Sastra | Teknologi | Madura | Kerupuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Tulisan terbaru

Kamera Sebagai Sebuah Senjata

Entah kebetulan atau memang disengaja, ungkapan yang sering disampaikan terkait dengan kamera adalah “The man behind the gun”. Foto...

Peran Media Massa untuk Pengembangan Pendidikan di Madura

Pendidikan sejatinya bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia. Di lembaga pendidikan, potensi itu diasah sedemikian rupa agar kelak ia berfungsi...

Berpuasa Media Sosial

Berapakah jumlah pengguna media sosial di Indonesia saat ini? Wearesosial Hootsuite menyebut angka 150 juta jiwa atau sebesar 56%...

Hari Buku dan Cerita Lainnya

17 Mei 2019. Hari Buku Nasional. Berapa buku yang dibeli, lalu ditelantarkan begitu saja? Banyak. Maklumlah. Kaum millenial...

Nyalasar, Membaca Arti Puisi

Buku "Nyalasar" Judul buku yang unik. Ditulis oleh K. M. Faizi. Isinya ulasan puisi....

Ke Sumar

Malam itu saya berharap menjadi malam yang baik-baik saja. Datang, dipijat, lalu pulang. Tapi, itu harapan...
- Advertisement -