• Beranda

Nyalasar, Membaca Arti Puisi

-

- Advertisment -
Buku “Nyalasar”

Judul buku yang unik. Ditulis oleh K. M. Faizi. Isinya ulasan puisi. Ada 17 pembahasan di dalamnya. Dan semuanya ditulis dengan gaya khas Kiai Faizi; renyah, mudah dipahami.  

Nyalasar itu bahasa Madura. Artinya menyerut kayu untuk melicinkan/menghaluskannya. Apa hubungan nyalasar dengan kegiatan mengulas puisi? Tentu kita bisa mamasukkan tafsir di situ. Mungkin kegiatan dimaksud untuk menyerut/menghaluskan sebuah puisi. Tapi dalam bahasa Kiai Faizi, untuk mendekatkan puisi kepada pembaca.

Betul. Sebagai pembaca awam, saya merasa terbantu sekali dalam memahami isi puisi-puisi di dalamnya. Saya memang tidak terlalu akrab dengan puisi. Dulu, saya sempat belajar menulis puisi dan mengirimkannya ke media. Beberapa dimuat dan beberapa lainnya dilempar awak redaksi ke tong recycle bin. Lalu, beberapa tahun setelah itu, tepatnya ketika saya mulai memasuki hari-hari akhir di Madrasah Aliyah, saya mulai menjauh dari puisi dan mendekat ke prosa. Penyebabnya satu: sulit memahami isi puisi.

Nah, buku puisi macam Nyalasar inilah yang saya butuhkan. Semata-mata untuk bisa menyelami tafsir di balik sebuah puisi. Memang tafsir puisi itu tidak tunggal, tapi ketika kita tidak punya tafsir sendiri, tafsir orang lain sangat perlu untuk kita baca.

Kiai Faizi sendiri menyebut gaya tafsirnya sebagai tafsir manasuka. Mungkin karena tidak menyertakan kaidah-kaidah penafsiran yang bersifat akademik atau metodologi-metodologi kritik sastra. Justru karena itulah, bagi pembaca awam macam saya, ulasan seperti ini terasa dekat dan lekat. Kepala saya bisa puyeng kalau berhadap-hadapan dengan istilah-istilah kritik sastra yang rumit-rumit itu. Karena saya tidak suka puyeng, maka saya lebih memilih buku model begini.

Dari sekian puisi yang diulas dalam buku ini, ada satu puisi yang tidak tuntas diulas oleh Kiai Faizi, yaitu puisi Afrizal Malna berjudul “Dalam Gereja Munster”. Kiai Faizi saja merasa cenat-cenut dengan puisi ini, apalagi saya. Afrizal memang suka membuat puisi-puisi gelap. Ia gemar menghidupkan benda-benda mati, atau bahkan hal-hal yang tak kasatmata. Usaha memahaminya bukanlah pekerjaan yang mudah.

Menafsir sebuah puisi memang bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan perangkat pengetahuan yang luas juga kecerdikan menangkap tanda. Penanda kecil, semisal tanggal/tahun pembuatan puisi, bisa menjadi pintu masuk untuk menyelam lebih jauh dalam sebuah puisi. Kiai Faizi memiliki keduanya. Beliau mungkin melakukan riset terlebih dahulu sebelum menuliskan ulasan-ulasan tersebut. Meskipun beliau menyebut istilah “manasuka”, saya tidak yakin beliau membuat tafsir secara asal-asalan. Hal itu tampak dari ragam pengetahuan yang ada di dalam buku tersebut. Dengan tema puisi yang beragam, Kiai Faizi selalu bisa menyuguhkan ulasan yang menarik.

Puisi-puisi yang diulas dalam buku tersebut ditulis oleh beberapa orang. Sebagian saya kenal namanya dan sebagian lainnya asing. Bahkan ada yang saya kenal sebagai penulis buku-buku ilmiah, bukan penyair.

Rozi
Rozihttp://www.alineabaru.com
Sastra | Teknologi | Madura | Kerupuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Tulisan terbaru

Kamera Sebagai Sebuah Senjata

Entah kebetulan atau memang disengaja, ungkapan yang sering disampaikan terkait dengan kamera adalah “The man behind the gun”. Foto...

Peran Media Massa untuk Pengembangan Pendidikan di Madura

Pendidikan sejatinya bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia. Di lembaga pendidikan, potensi itu diasah sedemikian rupa agar kelak ia berfungsi...

Berpuasa Media Sosial

Berapakah jumlah pengguna media sosial di Indonesia saat ini? Wearesosial Hootsuite menyebut angka 150 juta jiwa atau sebesar 56%...

Hari Buku dan Cerita Lainnya

17 Mei 2019. Hari Buku Nasional. Berapa buku yang dibeli, lalu ditelantarkan begitu saja? Banyak. Maklumlah. Kaum millenial...

Nyalasar, Membaca Arti Puisi

Buku "Nyalasar" Judul buku yang unik. Ditulis oleh K. M. Faizi. Isinya ulasan puisi....

Ke Sumar

Malam itu saya berharap menjadi malam yang baik-baik saja. Datang, dipijat, lalu pulang. Tapi, itu harapan...
- Advertisement -